PENGARUH TOPOGRAFI DOMINAN TERHADAP JENIS BENCANA

Interpretasi Umum Peta Topografi Sulawesi Selatan (berbasis DEM)

Pola utama yang terlihat:

  • Punggungan pegunungan memanjang utara–selatan di bagian tengah–barat (Toraja–Enrekang–Gowa–Bantaeng).
  • Dataran rendah luas di pesisir barat dan timur (Makassar–Maros–Pangkep; Luwu–Wajo).
  • Gradien elevasi tajam dari pegunungan ke dataran rendah → respons hidrologi cepat (banjir bandang di hilir).
  • Pulau Selayar relatif datar–bergelombang rendah dengan kantong perbukitan.

Implikasi langsung:

  • Banjir dominan di dataran aluvial rendah.
  • Longsor dominan di zona pegunungan/perbukitan curam.
  • Banjir bandang & longsor dangkal di zona transisi kaki lereng.
Kabupaten/KotaKarakter Topografi DominanElevasi & Lereng UmumImplikasi Bencana Topografi
Kota Makassar<50 m; 0–8%Dataran rendah pesisirRentan banjir perkotaan dan rob
Kab. MarosTransisi dataran–perbukitan<100 m & 100–300 m; 0–25%Banjir di hilir, longsor di hulu
Kab. PangkepDataran pesisir & perbukitan karst300 m; 0–45%Banjir pesisir, longsor lokal
Kab. GowaDataran rendah–pegunungan300 m; 0–45%Longsor di hulu, banjir di hilir
Kab. TakalarDataran rendah<50 m; 0–8%Genangan dan banjir
Kab. JenepontoBergelombang–perbukitan50–300 m; 8–25%Banjir lokal & longsor dangkal
Kab. BantaengGradien tajam pesisir–pegunungan300 m; 0–45%Longsor hulu, banjir bandang
Kab. BulukumbaDataran pesisir & perbukitan<100 m & 100–300 m; 0–25%Banjir hilir, longsor hulu
Kab. SinjaiPerbukitan–pegunungan & pesisir100–700 m; 15–45%Longsor di hulu, banjir di hilir
Kab. BoneDataran bergelombang50–300 m; 0–15%Banjir sungai
Kab. WajoDataran rendah luas<50 m; 0–8%Banjir dan genangan luas
Kab. SoppengPerbukitan100–300 m; 15–25%Longsor dangkal & banjir lembah
Kab. SidrapDataran rendah–bergelombang<100 m; 0–15%Banjir
Kab. PinrangDataran pesisir & perbukitan<100 m & 100–300 m; 0–25%Banjir pesisir, longsor hulu
Kab. EnrekangPegunungan terjal>700 m; >25%longsor Tinggi
Kab. LuwuDataran rendah & perbukitan<100 m & 100–300 m; 0–25%Banjir hilir, longsor hulu
Kab. Luwu UtaraTransisi dataran–pegunungan700 m; 0–45%Multi-bahaya (banjir & longsor)
Kab. Luwu TimurDataran, perbukitan & pegunungan700 m; 0–45%Longsor & banjir danau
Kab. Tana TorajaPegunungan>700 m; >25%Longsor dominan
Kab. Toraja UtaraPegunungan>700 m; >25%Longsor dominan
Kab. Kepulauan SelayarDataran rendah & perbukitan terbatas<100 m; 0–15%Banjir lokal pesisir
Kota ParepareDataran pesisir & perbukitan<100 m & 100–300 m; 0–25%Banjir & longsor lokal
Kota PalopoDataran rendah dekat pegunungan<100 m; 0–15%Banjir & banjir bandang

Sintesis Kualitatif per Kelompok Kabupaten/Kota

  1. Zona Dataran Rendah – Rawan Banjir

Ciri DEM: Elevasi 0–100 m dominan, lereng 0–8%

Kab/Kota:

  • Kota Makassar
  • Kota Parepare
  • Maros
  • Pangkep
  • Takalar
  • Wajo
  • Sidrap
  • Pinrang (hilir)
  • Luwu (hilir)
Implikasi:
  • kelas elevasi 0–50 m dan 50–100 m tinggi
  • luas lereng 0–8% dominan
  • “Bencana dominan”: Banjir / genangan / banjir rob (pesisir)

C. Zona Transisi Hulu–Hilir – Multi Bahaya

Ciri DEM: Elevasi 100–300 m, lereng 8–25%

Kab/Kota:

  • Bone
  • Soppeng
  • Luwu Utara
  • Luwu Timur
  • Sinjai (tengah)
  • Jeneponto
Implikasi:
  • Distribusi elevasi & lereng lebih seimbang
  • Potensi banjir bandang, longsor dangkal, erosi
  • “Bencana dominan”: Multi-bahaya

D. Kepulauan Selayar

Ciri DEM: Dataran rendah dominan, perbukitan terbatas

Kab/Kota:

  • Kepulauan Selayar
Implikasi:
  • Elevasi rendah dominan, lereng kecil–sedang
  • Banjir lokal, abrasi, kekeringan (non-topografi)
  • “Bencana dominan”: Banjir lokal / pesisir
PENGARUH GEOLOGI TERHADAP JENIS BENCANA

Peta memperlihatkan keragaman satuan geologi yang tinggi: endapan aluvial & sedimen muda pada dataran rendah/pesisir; batuan sedimen terlipat (batupasir–serpih–napal) dan vulkanik pada perbukitan; serta batuan beku–metamorf pada pegunungan tengah–utara. Variasi litologi ini berimplikasi langsung pada kerentanan longsor (kekuatan & pelapukan batuan) dan kerentanan banjir (permeabilitas & posisi geomorfik).

Kabupaten/KotaLitologi Dominan (indikatif)Karakter GeoteknikImplikasi Longsor
SelayarSedimen karbonat & aluvial pesisirPermeabel–rekahanRendah–Sedang
BulukumbaSedimen–vulkanikPelapukan sedangSedang
BantaengVulkanik & sedimen lerengPelapukan tinggiTinggi
JenepontoSedimen klastik & aluvialKekuatan rendahSedang
TakalarAluvial & sedimen pantaiLunak–jenuhRendah
GowaVulkanik hulu, aluvial hilirVariatifTinggi (Hulu)
MakassarAluvial pantaiLunakRendah
MarosKarst (batugamping) & sedimenRongga–rekahanSedang
PangkepKarst & sedimenRongga–rekahanSedang
BarruKarst & sedimenRongga–rekahanSedang
ParepareAluvial pantaiLunakSedang
SidrapSedimen & aluvial danauLunak–jenuhRendah
PinrangAluvial & sedimenLunakRendah
EnrekangVulkanik & metamorfLereng curamSangat Tinggi
Tana TorajaVulkanik–metamorfKuat tapi curamTinggi
Toraja utaraVulkanik–metamorfCuramTinggi
LuwuSedimen–aluvial hilirLunakSedang
Luwu UtaraVulkanik–metamorf huluCuram–lapukTinggi
Luwu TimurSedimen–beku (tambang)VariatifSedang–Tinggi
PalopoAluvial kaki pegununganLunakSedang
BoneSedimen & aluvialLunakRendah–Sedang Tinggi
WajoAluvial & danauSangat lunakRendah
SoppengSedimen–perbukitanPelapukan sedangSedang
PENGARUH CURAH HUJAN DAN JENIS BENCANA

Peta curah hujan di Sulawesi Selatan menunjukkan pola gradien yang jelas, dengan intensitas hujan tinggi hingga sangat tinggi pada wilayah pegunungan tengah–utara dan intensitas menengah pada dataran rendah pesisir barat dan timur. Pola ini memperkuat peran wilayah hulu sebagai sumber limpasan dan pemicu longsor, serta meningkatkan kerentanan banjir pada wilayah hilir dan perkotaan.

Kabupaten/KotaKelas Curah Hujan Dominan (mm/tahun)Karakter HujanImplikasi Hidrometeorologi
Kota Makassar2.000–2.500MenengahBanjir perkotaan musiman
Kab. maros2.500–3.000Menengah–tinggiBanjir hilir, limpasan dari hulu
Kab. Pangkep2.000–2.500MenengahBanjir perkotaan musiman
Kab. Gowa3.000–3.500MenengahGenangan pesisir & karst
Kab. Takalar2.000–2.500MenengahBanjir dataran rendah
Kab. Jeneponto1.500–2.000Relatif rendahBanjir lokal, kekeringan musiman
Kab. Bantaeng3.000–3.500TinggiLongsor & banjir bandang
Kab. Bulukumba2.500–3.000Menengah–tinggiBanjir hilir & longsor hulu
Kab. Sinjai2.500–3.000Menengah–tinggiLongsor & banjir
Kab. Bone2.000–2.500MenengahBanjir sungai
Kab. Wajo2.000–2.500MenengahBanjir dan genangan
Kab. Soppeng2.000–2.500MenengahBanjir lokal & longsor dangkal
Kab. Sidrap2.000–2.500MenengahBanjir
Kab. Pinrang2.500–3.000Menengah–tinggiBanjir pesisir & sungai
Kab. Enrekang3.000–3.500 (lokal >3.500)Tinggi–sangat tinggiLongsor tinggi
Kab. Luwu2.500–3.000Menengah–tinggiBanjir hilir
Kab. Luwu Utara3.000–3.500TinggiBanjir bandang & longsor
Kab. Luwu Timur2.500–3.000Menengah–tinggiBanjir & longsor
Kab. Tana Toraja3.000–3.500TinggiSedang–Tinggi
Kab. Toraja UtaraTinggiLongsor dominanSedang
Kab. Kepulauan Selayar2.000–2.500MenengahBanjir lokal pesisir
Kota Parepare2.000–2.500MenengahBanjir perkotaan
Kota Palopo2.500–3.000Menengah Menengah–tinggi Banjir perkotaan Banjir & banjir bandang
PENGARUH TUTUPAN LAHAN DAN JENIS BENCANA

Pola spasial NDVI ini memperlihatkan bahwa peningkatan risiko bencana di Sulawesi Selatan tidak hanya berkaitan dengan bahaya alam, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh degradasi vegetasi dan tekanan pemanfaatan lahan, khususnya pada wilayah dataran rendah dan kawasan berkembang pesat.

Kabupaten/KotaDominasi Kelas Kondisi Vegetasi Indikasi Kerentanan Catatan Kebencanaan
NDVIUmumLingkunganUtama
Kab. SelayarRendah–SedangVegetasi terbatas, lahan terbuka pesisirTinggiRentan banjir lokal & degradasi pesisir
BulukumbaSedang–RendahPertanian & pesisirSedang–TinggiLimpasan tinggi di dataran rendah
BantaengRendah–SedangLereng terdegradasi + pesisirTinggiKombinasi banjir & longsor
JenepontoRendahVegetasi jarang, lahan keringSangat TinggiKekeringan & banjir bandang
TakalarRendahKawasan terbangun & sawahTinggiBanjir genangan
GowaSedangHulu vegetatif, hilir terbangunSedangLongsor hulu, banjir hilir
MakassarSangat rendahKawasan terbangunSangat TinggiBanjir perkotaan
MarosSedangKarst & pertanianSedangBanjir karst & limpasan
PangkepSedangKarst & pesisirSedangBanjir lokal & pesisir
BarruSedangTransisi pesisir–perbukitanSedangBanjir & longsor lokal
ParepareSedangTransisi pesisir–perbukitanTinggiBanjir genangan
SidrapRendah–SedangSawah intensifTinggiBanjir periodik
PinrangRendah–SedangSawah & pesisirTinggiBanjir & rob
EnrekangTinggiPegunungan berhutanRendah–SedangLongsor lokal
Tana TorajaTinggiHutanRendahLongsor
Pengununanterlokalisir
Toraja UtaraTinggiVegetasi rapatRendahStabil relatif
LuwuSedangHulu vegetatif, hilir terbukaSedangBanjir hilir
Luwu UtaraTinggi–SedangHulu DAS berhutanRendah–SedangBanjir hilir
Luwu UtaraTinggi–SedangHulu DAS berhutanRendah–SedangLongsor hulu
Luwu TimurSedangTambang & perkebunanSedang–TinggiDegradasi lahan
PalopoRendahKota pesisirTinggiBanjir & limpasan
BoneRendah–SedangPertanian luasTinggiBanjir dataran rendah
WajoRendahDanau & sawahTinggiSangat Tinggi
SoppengSedangPerbukitan pertanianSedangLongsor Lokal
PENGARUH DAERAH ALIRAH SUNGAI TERHADAP BENCANA

Provinsi Sulawesi Selatan terdiri atas sejumlah DAS utama yang melintasi lebih dari satu kabupaten/kota, sehingga pengelolaan risiko banjir dan longsor tidak dapat dilakukan secara sektoral maupun administratif semata. DAS besar seperti Saddang, Walanae, dan Jeneberang menunjukkan keterkaitan langsung antara kondisi hulu dan hilir, di mana degradasi lahan di hulu berkontribusi terhadap peningkatan banjir di wilayah hilir dan perkotaan. Oleh karena itu, pendekatan berbasis DAS menjadi kerangka penting dalam analisis dan perencanaan mitigasi bencana lintas wilayah.

Kabupaten/KotaDominasi Kelas Kondisi Vegetasi Indikasi Kerentanan Catatan Kebencanaan
NDVIUmumLingkunganUtama
Kab. SelayarRendah–SedangVegetasi terbatas, lahan terbuka pesisirTinggiRentan banjir lokal & degradasi pesisir
BulukumbaSedang–RendahPertanian & pesisirSedang–TinggiLimpasan tinggi di dataran rendah
BantaengRendah–SedangLereng terdegradasi + pesisirTinggiKombinasi banjir & longsor
JenepontoRendahVegetasi jarang, lahan keringSangat TinggiKekeringan & banjir bandang
TakalarRendahKawasan terbangun & sawahTinggiBanjir genangan
GowaSedangHulu vegetatif, hilir terbangunSedangLongsor hulu, banjir hilir
MakassarSangat rendahKawasan terbangunSangat TinggiBanjir perkotaan
MarosSedangKarst & pertanianSedangBanjir karst & limpasan
PangkepSedangKarst & pesisirSedangBanjir lokal & pesisir
BarruSedangTransisi pesisir–perbukitanSedangBanjir & longsor lokal
ParepareSedangTransisi pesisir–perbukitanTinggiBanjir genangan
SidrapRendah–SedangSawah intensifTinggiBanjir periodik
PinrangRendah–SedangSawah & pesisirTinggiBanjir & rob
EnrekangTinggiPegunungan berhutanRendah–SedangLongsor lokal
Tana TorajaTinggiHutanRendahLongsor
Pengununanterlokalisir
Toraja UtaraTinggiVegetasi rapatRendahStabil relatif
LuwuSedangHulu vegetatif, hilir terbukaSedangBanjir hilir
Luwu UtaraTinggi–SedangHulu DAS berhutanRendah–SedangBanjir hilir
Luwu UtaraTinggi–SedangHulu DAS berhutanRendah–SedangLongsor hulu
Luwu TimurSedangTambang & perkebunanSedang–TinggiDegradasi lahan
PalopoRendahKota pesisirTinggiBanjir & limpasan
BoneRendah–SedangPertanian luasTinggiBanjir dataran rendah
WajoRendahDanau & sawahTinggiSangat Tinggi
SoppengSedangPerbukitan pertanianSedangLongsor Lokal