Data & Statistik
Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kejadian bencana hidrometeorologis yang relatif tinggi dan beragam. Berdasarkan rekapitulasi kejadian bencana di tingkat kabupaten/kota, jenis bencana yang paling dominan di wilayah ini adalah kebakaran, angin kencang dan puting beliung, banjir, serta tanah longsor, sementara kejadian gempa bumi tercatat dalam frekuensi yang lebih rendah dan bersifat episodic. Pola ini menunjukkan bahwa risiko kebencanaan di Sulawesi Selatan didominasi oleh proses hidrometeorologis yang berkaitan erat dengan kondisi iklim, hidrologi, dan tata guna lahan.
7 Bencana Terbesar di Sulawesi Selatan
No Data Found
Secara spasial, kejadian banjir terkonsentrasi pada wilayah dataran rendah dan hilir daerah aliran sungai, khususnya di kabupaten/kota dengan karakter topografi landai dan tingkat perkembangan wilayah yang tinggi. Wilayah seperti Luwu Utara, Luwu Timur, Sidenreng Rappang, Pinrang, serta kawasan perkotaan menunjukkan intensitas kejadian banjir yang relatif lebih sering dibandingkan wilayah lainnya (Gambar 8). Kondisi ini mencerminkan akumulasi limpasan dari wilayah hulu, keterbatasan kapasitas sungai dan drainase, serta peningkatan eksposur penduduk dan infrastruktur di kawasan dataran rendah.
Sebaliknya, kejadian tanah longsor lebih dominan pada wilayah pegunungan dan perbukitan dengan lereng curam, litologi terlapukkan, dan curah hujan tinggi. Kabupaten Enrekang, Tana Toraja, Toraja Utara, Luwu, dan Sinjai menunjukkan tingkat kejadian longsor yang lebih menonjol dibandingkan wilayah pesisir dan dataran rendah (Gambar 9). Pola ini memperkuat keterkaitan antara kondisi topografi–geologi dan risiko longsor, terutama pada kawasan hulu DAS dan zona peralihan lereng–dataran.
No Data Found
Selain banjir dan longsor, kejadian angin kencang dan puting beliung tersebar cukup merata, terutama pada wilayah pesisir dan dataran terbuka, sementara kebakaran—baik kebakaran permukiman maupun lahan—menjadi salah satu bencana dengan frekuensi tertinggi dan tersebar lintas wilayah. Dominasi bencana-bencana tersebut menegaskan bahwa sebagian besar risiko kebencanaan di Sulawesi Selatan bersifat non-struktural dan dipengaruhi oleh faktor iklim, tata ruang, serta aktivitas manusia.
| Karakter Wilayah | Kabupaten/Kota Representatif | Jenis Bencana Dominan | Faktor Pengendali Utama |
|---|---|---|---|
| Pegunungan / Perbukitan | Enrekang, Tana Toraja, Toraja Utara, Luwu, Sinjai | Tanah longsor | Lereng curam, litologi terlapukkan, curah hujan tinggi |
| Dataran rendah & hilir DAS | Sidenreng Rappang, Pinrang, Luwu Utara, Luwu Timur | Banjir | Topografi landai, akumulasi limpasan, kapasitas sungai terbatas |
| Pesisir & dataran terbuka | Jeneponto, Takalar, Bulukumba | Angin kencang / puting beliung | Paparan angin laut, tutupan vegetasi terbatas |
| Perkotaan & kawasan padat | Makassar, Parepare, Palopo | Banjir perkotaan, kebakaran | Urbanisasi, drainase, kepadatan permukiman |
| Lintas wilayah (hulu–hilir) | DAS Saddang, Walanae, Luwu | Banjir bandang & sedimentasi | Degradasi DAS, perubahan tutupan lahan |